Sunday, 5 May 2013

Ummu Salamah Wanita yang Diangkat Derajatnya



Disela-sela kita mengkaji sirah tentang kehebatan kehidupan insan agung bernama Muhammad bin Abdulllah Shalallahu Alaihi Wasalam, Nabi dan Rasul terakhir  utusan Allah kepada kita. Ataupun kesetiaan Abu Bakar As-siddiq, ketegasan Umar Al-Khatab dan kisah Sayyidina Ali yang bersemangat, disana terselip kisah-kisah wanita hebat di zaman Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Mungkin kisah-kisah sahabiyah ini jarang kita dengar, namun dibalik kisah sahabiyah ini terselip seribu satu hikmah dan pelajaran untuk menjadi contoh nyata  bagi yang mendambakan surga dan ridha Allah. Kali ini sedikit mari kita melirik  kisah Ummu Salamah Radhiyallahu Anha. Wanita yang kesabaran dan ketabahannya membuahkan balasan yang agung.
Imam Adz-Dzahabi menjelaskan identitas Ummu Salamah:
“ Ummu Salamah adalah wanita terhormat, berhijab dan suci. Namanya Hindun binti Abu Umayyah bin Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah Al-Makhzumiyah. Ummu Salamah merupakan sepupu  Khalid bin Walid yang digelari Pedang Allah dan Abu Jahal bin Hisyam. Dia termasuk wanita yang pertama kali berhijrah. Sebelum menjadi isteri Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam, Ummu Salamah menikah dengan Abu Salamah bin Abdul Asad Aal-Makhzumi, seorang lelaki yang soleh.”

Mari kita melirik sejenak kehidupan Ummu Salamah sebelum kedatangan islam. Ummu Salamah adalah seorang wanita yang sangat terhormat dan mulia. Berasal dari keluarga yang terhormat kerena beliau berasal dari bani Makhzum. Ayahnya juga adalah seorang tokoh Quraisy yang dermawan dan pemurah dan selalu memberi bekal kepada musafir yang kehabisan bekal. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang dermawan membuat Ummu Salamah menjadi seorang yang dermawan, mempunyai hati yang bersih serta sangat memahami  arti belas kasih sehingga memancarlah kebaikan dan kemurahan hatinya kepada manusia.
Sejak kecil Ummu Salamah sudah menampakkan keperibadian yang kuat untuk menjadi wanita terhormat. Beliau juga memiliki rupa paras yang cantik jelita. Setelah  dewasa, Ummu Salamah dipinang oleh Abdullah (Abu Salamah) bin Abdul Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Abu Salamah merupakan seorang pemuda Quraisy yang terkenal dengan kepiawaian beliau menunggang kuda. Beliau juga merupakan saudara  sesusuan Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam. Pernikahan Hindun (Ummu Salamah) dan Abu Salamah dilangsungkan dan mereka hidup bahagia. Setelah Islam tersebar di Mekah, Ummu Salamah dan suaminya termasuk di antara orang-orang awal yang mengikrarkan iman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Ketika hendak berhijrah ke Madinah, Ummu Salamah dan suaminya mengalami peristiwa yang amat memilukan. Ketika Abu Salamah, Ummu Salamah dan putera mereka, Salamah bin Abu Salamah sedang mempersipkan bekal menuju ke Madinah, terjadilah perselisihan antara keluarga bani Asad dan Bani Mughirah. Keluarga bani Mughirah (keluarga Ummu Salamah) tidak mengizinkan Abu Salamah membawa Ummu Salamah hijrah ke Madinah oleh karena larangan tersebut  Bani Asad (keluarga Abu Salamah) mengambil kebijakan bahwa anak mereka (Salamah) harus ikut bersama bani Asad, maka Abu Salamah pun melanjutkan perjalanannya hijrah ke Madinah. Adapun  Ummu Salamah dibawa pulang oleh keluarganya (Bani Mughirah) yang akhirnya harus terpisah dari anak dan suaminya. Namun begitu Ummu Salamah diberi kesabaran yang tinggi untuk terus sabar melalui ujian itu. Sejak terpisah dengan suami dan anaknya, setiap pagi Ummu Salamah pergi ke tanah lapang dan duduk sambil menangis. Hal itu dilakukan selama setahun sehingga pada suatu hari salah seorang sepupunya dari Bani Mughirah melihatnya dan berkata kepada keluarga Bani Mughirah yang lainnya:
Tidakkah kalian merasa simpati terhadap wanita malang itu? Kalian telah memisahkannya dari suami dan anaknya
Tidak lama setelah itu keluarga bani Mughirah mengizinkan Ummu Salamah untuk bertemu suaminya di Madinah. Keluarga Bani Asad pun mengembalikan puteranya Salamah kepada Ummu Salamah. Lalu Ummu Salamah berangkat bersama puteranya keluar bertemu suaminya. Beliau memulai perjalanan sendirian dan hanya ditemani puteranya yang masih kecil, dan hanya berbekal  tawakkal kepada Allah yang melebihi segala-galanya. Di dalam perjalanan, beliau bertemu dengan Utsman bin Thalhah dan Utsman membantu perjalanannya sehingga beliau bertemu dengan suami tercinta, Abu Salamah. Setelah bertemu dengan suaminya di Madinah, Ummu Salamah hidup bahagia dan dapat beribadah dengan tenang dan bertaqwa serta menggali setiap bentuk kebaikan daripada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Ummu Salamah berusaha keras mendidik empat anaknya (Zainab, Umar, Salamah dan Durrah) dengan menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulullah.
Ummu Salamah sangat mendukung setiap aktivitas suaminya untuk berjuang di medan jihad. Beliau setia menyembuhkan luka-luka pada badan suaminya seusai peperangan, hingga suatu waktu suaminya mengalami luka parah pada perang Uhud. Ketika Abu Salamah terbaring menanti detik kematian, terjadilah percakapan yang sangat mengharukan antara Abu Salamah dan Ummu Salamah. Ziyad bin Abu Maryam menuturkan, saat itu Ummu Salamah berkata,
“Aku mendengar bahwa jika seorang isteri ditinggal mati oleh suaminya, sementara suaminya itu menjadi penghuni surga, lalu isterinya tidak menikah lagi, maka Allah akan mengumpulkan mereka kembali di dalam surga. Kerana itu aku bersumpah bahwa engkau tidak akan menikah lagi (seandainya aku yang mati terlebih dahulu) dan aku tidak akan menikah lagi setelah engkau mati.”
Abu Salamah berkata, “Apakah engkau akan taat kepadaku?”
Ummu Salamah menjawab, “ya”.
Abu Salamah berkata, Kalau begitu jika aku mati terlebih dahulu maka menikahlah lagi. Ya Allah, jika aku mati maka berilah Ummu Salamah seorang suami yang lebih baik dariku yang tidak akan membuatnya sedih dan tidak akan menyakitinya.”

Tidak lama setelah itu, Abu Salamah meninggal dunia. Allah pun mengabulkan doa Abu Salamah  yang mana Allah mendatangkan insan paling mulia kepada Ummu Salamah. Setelah kematian suaminya, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam datang dan meminang Ummu Salamah. Ummu Salamah menikah dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam dan termasuk dalam keluarga yang mulia lagi suci. Betapa Allah telah memuliakan Ummu Salamah dengan kemuliaan yang melebihi kemewahan dunia dan seluruh isinya. Ummu Salamah menjalani kehidupan yang sangat bahagia dan barakah bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam. Ummu Salamah menjadi seorang isteri yang sangat baik kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Beliau banyak membantu dakwah Rasulullah, terlebih lagi karena Allah memberikan kepada Ummu Salamah kecerdasan. Diceritakan dalam satu kisah ketika perjanjian Hudaibiyah, setelah selesai menandatangani perjanjian damai dengan kaum musyrik, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam  berkata kepada para sahabatnya,
  Bersiap-siaplah, sembelihlah hewan-hewan korban kalian dan cukurlah rambut kalian
Namun, saat itu tidak ada seorang pun sahabat yang berdiri dan melaksanakan perintah baginda Shalallahu Alaihi Wasallam walaupun perintah itu diulang sebanyak tiga kali oleh Rasulullah. Melihat tidak ada tindakan dari pihak sahabatnya, maka masuklah Rasulullah ke tenda dan menemui Ummu Salamah, lalu menceritakan kejadian tersebut. Di sinilah Ummu Salamah memainkan peranannya dengan baik sekali. Wanita yang punya pemikiran yang hebat ini menyelamatkan para sahabat dari kemarahan  Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Ummu Salamah berkata:
Wahai Nabi Allah, apakah engkau ingin sahabat-sahabatmu mengerjakan perintahmu? Keluarlah dan jangan berbicara dengan siapa pun sebelum engkau menyembelih hewan kurbanmu dan memanggil pencukur untuk mencukur rambutmu
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengikut saran Ummu Salamah. Baginda keluar tanpa berbicara dengan siapa pun lalu menyembelih hewan kurbannya serta mencukur rambutnya. Ketika para sahabat melihat tindakan baginda, para sahabat lantas bangkit dan menyembelih hewan korban mereka serta mencukur rambut mereka.
Ummu Salamah juga sangat menyayangi orang-orang yang ada disekelilingnya. Beliau akan sentiasa bahagia jika dapat memberi kabar gembira kepada orang sekelilingnya. Beliau juga yang menyampaikan kabar kepada Abu Lubabah bahwa Allah telah menerima taubatnya. Ummu Salamah juga pernah membujuk Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam untuk memaafkan Abu Sufyan bin Harits dan Abdullah bin Abu Umayyah. Ketika mereka berdua ingin menemui Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam di Abwa’, mereka berusaha mengadap baginda namun ketika melihat kedatangan mereka, Rasulullah lantas memalingkan muka karena tidak dapat menerima perlakuan mereka selama ini yang sangat menyakitkan baginda Shalallahu Alaihi Wasallam. Namun Ummu Salamah membujuk Rasulullah dengan berkata:
“Wahai Rasulullah bagaimanapun mereka bukanlah orang yang paling menyakitimu selama ini

Imam Adz-Dzahabi menyebut sifat Ummu Salamah:
Dia dianggap salah seorang ulama generasi sahabat”
Bagaimana Ummu Salamah tidak mencapai darjat setinggi itu, setiap saat beliau mendengar langsung bacaan al-quran dari pada Rasulullah dan mendengar kata-kata Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dari lisan baginda. Ummu Salamah juga menjadi rujukan para sahabat dalam beberapa persoalan hukum dan fatwa, terutama persoalan yang berkaitan dengan wanita. Ummu Salamah juga meriwayat 378 hadits yang dihafalnya dengan baik.
Ummu Salamah meninggal dunia ketika usianya sekitar 90 tahun dan sempat berada dalam dalam pemerintahan Khulafa ar-Rasyidin hingga pemerintahan Yazid bin Mu’awiyyah. Imam Adz-Dzahabi berkata:
Dia adalah Ummul Mukminin yang paling akhir meninggal dunia
Demikianlah diceritakan kisah hidup wanita agung, Hindun atau yang lebih dikenal dengan nama Ummu Salamah. Betapa kemuliaan akhlaknya, kesucian hatinya dan ketabahannya menjalani ujian kehidupan menjadikan beliau insan yang diagungkan dan ditinggikan derajatnya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sehingga diberi tempat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala menjalani kehidupan yang barakah bersama insan mulia Rasulullah Shalallahu Aalaihi Wasallam. Betapa kematangan pemikiran beliau telah memberikan sumbangsih besar akan keberhasilan dakwah Rasulullah Shalallahu Aalaihi Wasallam. Semoga ketabahan hatinya, kesetiaannya kepada orang-orang yang ia cintai, kesuciaan hatinya, kesungguhannya menerapkan sifat taqwa dalam diri, kesungguhannya menanamkan rasa cinta anak-anaknya kepada Allah dan Rasullah menjadi teladan buat kita yang sentiasa mendamba ridha Ilahi.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube